Tahukah kamu, bahwa saat ini pemerintah tengah memotivasi para pelaku bisnis tuk bisa mengembangkan bisnisnya hingga ekspor ke berbagai negara di dunia. Atas dasar itu, pemerintah selalu berbenah memperbaiki pelayanan serta aturan yang berkaitan dengan dunia ekspor. Bahkan kabarnya, pemerintah turut memberikan penghargaan kepada pengusaha yang sudah menggeluti ekspor barang loh.

Salah satu penghargaan yang dimaksud ialah Primaniyarta, yaitu sebuah apresiasi dari pemerintah kita untuk para pengusaha yang berprestasi di perdagangan internasional. Harapannya, dengan adanya apresiasi semacam ini mampu memikat pengusaha lain untuk meneladaninya.

Berkaitan dengan itu, barangkali kamu tertarik untuk menekuni dunia ekspor barang, berikut ini kami akan berikan informasi tentang bagaimana cara menjadi eksportir bagi pemula. Setidaknya, sebelum kamu ke dinas terkait, kamu sudah wawasannya.

Sales Contract Process – Membuat Surat Kontrak Penjualan

Poin ini merupakan pembuatan dokumen persetujuan yang dilakukan oleh pengekspor barang dengan pengimpor, sebagai transaksi jual beli. Dokumen yang perlu dibuat ini berisikan harga, penjaminan mutu, asuransi, ekspedisi, mekanisme pembayaran, dan lain-lain.

Letter of Credit (L/C) Opening Process – Surat Jaminan Pembayaran

Sesudah membuat sebuah kontrak penjualan, maka proses berikutnya yang perlu dilakukan ialah:

  • Pihak pengimpor perlu meminta bank devisa dalam rangka membuka sebuah letter of credit. Dalam hal ini, jaminan atas uang yang akan dibayarkan untuk si pengekspor sesuai dengan kotrak penjualan.
  • Proses advising bank. Yakni sebuah pembukuan dari jaringan bank yang terdapat pada negara eksportir terkait transaksi yang dilakukan.
  • Berikutnya, Advising Bank akan mengecek kredibilitas dari letter of Credit yang sudah dibuat. Jika sudah dipastikan valid, maka pihak advising bank akan memberikan sebuah jaminan atas barang.

Pengiriman atau Cargo Shipment Process

Sesudah sekelumit urusan calon pengekspor di atas sudah tuntas, berikutnya perusahaan pengapalan akan menyerahkan dokumen atau berkas sebagai bukti bahwa barang sudah dimuat. Berkas-berkas itu kemudian diberikan kepada advising bank oleh pengekspor, yang kemudian diberikan lagi kepada bank devisa tempat pengimpor.

Pihak pengimpor kemudian akan mendapatkan dokumen pengapalan sesaat setelah ia tuntas membayar kepada bank devisa. Dokumen ini tentu saja begitu penting bagi pihak pengimpor guna mengambil barangnya.

Shipping Documents Negotiations Process – Pencairan Dokumen Pengapalan

Pada tahap ini, pengekspor bisa mengklaim pembayaran dari pihak pengimpor yang sudah dibayarkan kepada bank devisa. Syaratnya, pihak pengekspor harus menujukkan bukti pengapalan yang sudah dikirimkan.

Sesudah mendapatkan berkas dari pihak pengapalan, pihak pengekspor kemudian perlu menyiapkan dokumen lain sebagaimana yang tertera pada perjanjian letter of credit. Sebut saja invoice, daftar packing, dan lain-lain. Sesudah semua persyaratan berkas yang diminta telah ada, barulah pihak pengekspor akan mendapatkan hak pembayarannya.

Nah itulah beberapa hal yang perlu dilakukan oleh calon pengekspor pemula. Meski terlihat ribet, jika kamu sudah pernah melakukannya sekali, maka semua akan menjadi mudah.

Bagi kamu yang sudah memiliki produk-produk berkualitas, tunggu apalagi? Segeralah berprestasi di perdagangan internasional. Kamu bisa memulai ekspor Indonesia ke Thailand, atau ke negara-negara tetangga terlebih dahulu untuk mendapatkan pengalaman berharga.

Kalau kamu masih ragu terkait apakah barang akan sampai dengan selamat atau nyasar di jalan, kamu tepis deh anggapan itu. Apalagi, saat ini sudah ada Kilo.id, yang akan menjadi sahabat setia kamu ketika ingin ekspor barang. Sebagai ekspedisi internasional, Kilo.id akan memberikan pelayanan terbaik dan terbarukan guna memudahkan kamu dalam ekspor maupun impor barang.

By mastah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *